a

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adicing elit ut ullamcorper. leo, eget euismod orci. Cum sociis natoque penati bus et magnis dis.Proin gravida nibh vel velit auctor aliquet. Leo, eget euismod orci. Cum sociis natoque penati bus et magnis dis.Proin gravida nibh vel velit auctor aliquet.

  /  Project   /  Blog: Kecerdasan Buatan Menjadi Salah Satu Alasan Terjadinya Digital Divide

Blog: Kecerdasan Buatan Menjadi Salah Satu Alasan Terjadinya Digital Divide


Digital Divide atau sering juga disebut dengan digital split merupakan masalah sosial yang merujuk kepada perbedaan jumlah informasi antara orang-orang yang memiliki akses ke internet (termasuk akses broadband) dan orang-orang yang tidak memiliki akses.

Istilah Digital Divide ini menjadi semakin popular di kalangan pihak terkait, seperti Sarjana dan kelompok Advokasi, mulai dari akhir 1990-an.

Dimensi Digital Divide

Secara umum, perbedaannya tidak harus ditentukan oleh dimiliki atau tidaknya akses ke internet, tetapi juga dimiliki atau tidaknya akses ke TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) dan ke media yang dapat digunakan oleh berbagai segmen masyarakat. Berkenaan dengan internet, faktor-faktor seperti kualitas koneksi yang dimiliki internet itu sendiri, dan layanan terkait, harus ikut dipertimbangkan. Saat ini masalah yang paling sering dibahas adalah ketersediaan akses dengan kualitas yang memuaskan dan biaya yang terjangkau.

Masalah dalam Digital Divide ini sering dibahas dalam konteks internasional, menunjukkan bahwa negara-negara maju jauh lebih banyak memanfaatkan internet dibanding negara-negara kecil dan negara-negara yang masih sedang berkembang. Mengacu kepada laporan Akamai, ditunjukkan bahwa kecepatan koneksi rata-rata dan maksimum dari pengguna internet, broadband, dan mobile sudah tidak dapat dihindari lagi kenaikannya tiap tahun.

Artificial Intelligence Bersifat Sebagai Digital Divide yang Baru

Sebuah artikel di Wired yang berjudul, “Google, Facebook and Microsoft are remaking themselves around AI” menyoroti topik mengenai upaya yang dilakukan oleh para teknologiawan raksasa seperti Facebook maupun Google dalam mendidik karyawan mereka di semua tingkatan dengan menggabungkan bakat dan mengembangkan produk baru berdasarkan pada pembelajaran mesin dan AI dalam mengubah cara mereka mengatur dan mengoperasikan bisnis mereka. Dalam waktu yang sangat singkat, kita telah beralih dari musim-musim dimana teknologi masih belum banyak mempengaruhi hidup manusia ke musim dimana telah ada jenis-jenis teknologi baru yang telah dikembangkan sampai kepada aplikasi dan disebarkan ke berbagai daerah yang menjadi satu alasan terjadinya kesenjangan antara perusahaan yang mengadopsi teknologi tersebut, dan yang tidak.

Dari sudut pandang sekolah Bisnis, fenomena yang terjadi ini dapat dilihat dengan jelas dari meningkatnya permintaan para eksekutif yang memahami bidang ini, yang tercermin dari kenyataan dimana meningkatnya permintaan kursus yang berkaitan dengan bidang yang akan dikembangkan dari tahun ke tahun.

Melihat hal ini, para ahli di bidang teknologi mulai memikirkan strategi apa yang mungkin dapat dikembangkan. Kemudian para ahli tersebut memutuskan untuk mengembangkan sebuah platform pembelajaran mesin dan menawarkannya kepada pihak ketiga melalui Machine Learning as a Service (MLaaS). Sebelum membahas lebih jauh, saya jelasin dulu MLaaS itu adalah serangkaian layanan yang menyediakan tools pembelajaran Machine Learning sebagai bagian dari layanan cloud computing. Dalam konteks ini, perusahaan-perusahaan besar seperti Amazon (strategi tradisionalnya adalah mengembangkan berbagai layanan seperti logistic, cloud computation, dsb.), Microsoft, IBM, Facebook, dan Google, merupakan perusahaan yang lebih sering dilirik oleh para pengembang teknologi dibanding perusahaan-perusahaan kecil maupun yang masih sedang berkembang. Alasannya adalah karena perusahaan-perusahaan besar itu lebih cepat dan lebih gesit dalam mengembangkan sebuah produk.

MLaaS

Dalam mengembangkan sebuah platform besar seperti itu, tentu memiliki tantangan. Tantangannya, tentu saja, adalah untuk menciptakan platform yang mudah digunakan dan yang tidak memerlukan puluhan pekerja ataupun ilmuwan data, dan mampu beradaptasi dengan tuntutan perusahaan, yang dalam banyak kasus, tidak tahu persis apa yang mereka inginkan. Untuk saat ini, sebagian besar perusahaan menerapkan pendekatan seperti, “Saya telah melihat orang lain menggunakan itu, dan saya juga menginginkannya”, jadi, penghalang masuknya teknologi bukanlah teknologi itu sendiri, tetapi ketidaktahuan mereka akan kemungkinan-kemungkinannya.

Maka dari itu tidak menutup kemungkinan bahwa di masa depan, perusahaan-perusahaan akan terbagi menjadi perusahaan mana yang dapat beradaptasi dan mampu mengambil keuntungan dari kecedasan buatan (Artificial Intelligence) dan mengadopsi pembelajaran mesin dan mengimplementasikannya ke dalam operasi sehari-hari mereka, dan perusahaan-perusahaan mana yang akan terus beroperasi seperti biasa, yang nantinya membuat perusahaan-perusahaan tersebut menjadi jauh kurang produktif dari perusahaan-perusahaan yang menggunakan AI.

Dari artikel ini, saya berbicara tentang kemunculan Digital Divide yang baru, yaitu adanya kesenjangan digital yang terjadi antara perusahaan-perusahaan yang mau melakukan improvisasi dengan cara menggunakan AI dan yang memilih untuk beroperasi seperti yang biasa dilakukan.

Kamu sendiri lebih memilih sisi yang mana?

Source: Artificial Intelligence on Medium

(Visited 5 times, 1 visits today)
Post a Comment

Newsletter